Semalam saya berada di tengah warga Kelurahan Kober Purwokerto Barat untuk menyaksikan gladi bersih pagelaran ketoprak humor. Sungguh saya berbunga-bunga bahkan kalau saja saya tak ingat janji saya pada merah putih untuk tidak menjadi cengeng air mata saya susah meleleh.
Saya menemukan semangat berkesenian yang sejatinya di tengah para pemain yang didalangi seorang guru kesenian kang Sriyono.
Sudah 2 Kali says datang menunggu sahabat-sahabat seniman saya latihan. Mereka sehari-hari ada yang berprofesi sebagai PNS, ada bidan, guru PAUD, perangkat desa dan lain-lain. Buat saya ini sangat menarik. Saya katakan kepada Iksanto, Krushato, Kokong, para seniman yang mendukung lakon Damar Wulan yang akan digelar besok (25/8) bahwa inilah kebangkitan berkesenian yang sejatinya untuk kota Purwokerto.
Saya ‘gayeng” berada di tengah mereka. Pertama karena saya merindukan latihan – latihan seperti itu. Saya segera share ke medsos dan lewat pemberitaan media online agar terasa kebangkitan ini.
Kedua, sejarah berkesenian yang sangat penting dalam hidup saya seolah menjadi hidup kembali.
Teringat saya akan teman-teman saya, Mbah Koyo yang baru saja dipanggil menghadap Allah SWT. Orang yang tak pernah bosan menyambangi saya dengan sepeda pada tahun 1975,untuk berlatih teater di balai kelurahan Kober ini. Teringat Aris Munandar, pekerja seni yang saat itu kerja di sebuah hotel, yang membuat saya jadi kreatif dan terus mencari jatidiri saat saya masih SMA. Saya kembali teringat Dimas Yoto, seniman dengan perjuangan keras, mencari masks dan meng updated berita kesenian dengan bolak balik ke Taman Ismail Marzuki dengan berbekal SAP lantaran bapaknya pegawai PJKA.
Tahun 1977,bersama mereka bertiga kami melahirkan Teater Semut di balai desa Kober. Sejarah mencatat hangatnya Kober sebagai basis kesenian. Lahirnya orang – orang seni seperti Kokong, alm Timbul, Sugeng, Bangun dan kejayaan Teater Boom yang kami bangun bersama mereka setelah kepergian Sukoyo atau mbah Koyo meninggalkan Kober akhir 70an.
Ya, mbah Koyo dengan khas kacamatanya meninggalkan Purwokerto pada saat saya bersemangat berkesenian. Ia memilih menjadi pekerja sosial mengembara keluar Jawa.
Saya bolak balik Piurwokerto Yogyakarta untuk berkesian. Sementara sayapun bergabung dengan teater kampus tempat saya kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM Yogyakarta. Saya membawa rombongan sahabat-sahabat saya dari Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) Yogya untuk tampil di Purwokerto dan bertukar pengalaman dengan seniman seniman Purwokerto.

Semangat para pemain ketoprak humor kelurahan Kober memberi energi buat saya yang hampir hilang. Rencana membangkitkan kembali teman-teman lama yang hampir padam kini muncul kembali.
Enam bulan lalu saya temui Dimas Yoto, Aris Munandar dan Mbah Koyo. Di teras rumahnya saya ceritakan kegelisahan saya untuuk mengajak mereka naik panggung. Saya telah 3 kali mengajak Koyo baca puisi sejak saya pulang kampung dan memilih hidup di Purwokerto.
Sayang mbah Koyo keburu sakit sebelum impian kami terwujud.
Dan manusia hanya bisa berencana. Di depan pusara sahabat saya Sukoyo saya bilang, Kober akan bergairah kang, istirahatlah.
Inilah kebangkitan gairah seni Purwokerto. Kesenian sejati yang diharapkan lahir dan hidup mandiri. Gaungnya harus menembus jagad raya di era infirmasi terbuka ini.

Sebarkan: